Disini kita bisa cerita tentang apa saja yang berkaitan dengan budaya.. saya adalah seorang suku Batak dan saya ingin berbagai tentang budaya Batak yang saya ketahui. Saya berharap akan ada waktu untuk kita bertemu bagi sesama penggemar dan pecinta budaya Batak.
HORAS!!!
PESTA DANAU TOBA
Tanggal 14 juli 2008 yang lalu adalah pembukaan pesta danau toba, pesta yang kembali diselenggarakan oleh orang Batak di danau toba setelah 10 tahun vakum dan pastinya sangat dirindukan oleh setiap orang batak yang pernah mengikuti atau mendengarnya.
pernah dengar pesta danau toba ngga sebelumnya? kalau sudah pernah mendengar visit Indonesian Year yang lagi digallakkan oleh pemerintah kita saat ini, berarti tahu juga tentang pesta danau toba atau bahasa kerennya toba lake festival…
secara tidak terencana kami* mengikuti pesta danau toba yang pelaksanaanya ternyata diundur hingga tanggal 18 Juli. berhubung Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berkunjung di event ini so.. acaranya diperpanjang deh.. bagi sebagian besar peserta mungkin hal ini sudah tidak greget lagi…tapi ada kesempatan lain yang datang bagi kami saat itu.
*saya dan rekan-rekan dari TB Silalahi Center (www.tbsilalahicenter.org)
pada hari dimana jadwal seyogyanya pesta danau toba akan ditutup(dan akhirnya diperpanjang), ssalah seorang sobat mengajak kami* untuk ikut berpatisipasi dalam pameran yang menjadi salah satu mata acara event tersebut. dengan pertimbangan bahwa memang ini adalah moment yang baik untuk kami mempromosikan TB Silalahi Center kepada masyarakat luas. dalam waktu kurang lebih dua jam saya harus membuat banner yang akan dipakai dalam pameran dan sulitnya lagi, banner tersebut direncanakan akan dipakai dalam pameran2 yang akan diikuti oleh TB Silalahi Center di kemudian hari.
dengan upaya yang semaksimal mungkin saya berusaha membuat banner itu sekaligus dan ta..da… jadilah banner TBSC dengan sederhana. bicara soal TB Silalahi Center atao mari kita sebut dengan panggilan akrab TBSC, nanti kita akan bercerita tentang itu lebih lanjut. kembali ke Pesta Danau Toba atao PDT 2008.
satu hal yang sangat saya sayangkan adalah mengapa pelaksanaan PDT 2008 ini terkesan kurang serius. selagi kesempatan untuk mempromosikan danau toba kepada dunia luar sangat terbuka luas terutama untuk mendukung danau toba menjadi salah satu dri 7 keajaiban dunia, justru kesempatan itu seolah hilang begitu saja dengan beerlalunya waktu PDT 2008.
betapa pentingnya event ini sebenarnya, hanya saja tidak tampak antusias yang luar biasa dari masyarakat dan pengunjung yang datang ke tempat itu. PDT 2008 diadakan di Parapat dan berpusat di sebuah lapangan terbuka yang menjadi lokasi pembukaan dan penutupan acara tersebut. untuk kedatangan seorang Presiden pun event ini terlihat kurang bersolek
(to be continued)
continue.. part II
dari beberapa berita di koran yang saya baca juga menyayangkan ketidak kreatifan para panitia dan bahkan ada pula yang membahas tentang kebiasaan panitia yang suka ngutang what…a….shame.
Ada 5 kabupaten yang ikut berpartisipasi dalam PDT ini diantaranya adalah Kab. Tobasa, Kab. Humbang Hasndutan, Kab. Dairi, Kab. Samosir dan Kod. Serdang Bedagai. Sebenernya Pakpak Bharat juga ikut tapi berhubung acara pamerannya juga ga jauh beda (bahkan lebih buruk mungkin)mereka pulang lebih awal atau tepatnya setelah jadwal selesai. bisa dibilang stand pameran masing-masing kabupaten secara umum kurang menarik karena mereka mungkin hanya memenuhi perintah masing-masing boss (daripada dang adong-kata orang Batak). Karena TBSC berada di Kab. Tobasa dan untungnya kita dikasih ikutan numpang pameran distan Tobasa. Menurut pengakuan temen-temen yang sebelumnya ikutan di dua hari pertama, kedatangan dan keberadaan TBSC di pameran itu bikin suasana sedikit lebih hidup dan pada akhirnya memang kita menjadi center stage-nya.
tentu saja kita bisa jadi pusat perhatian soalnya disana ga ada yang bisa mencairkan suasana karena setiap stand pada umumnya memamerkan hal yang sama. Kumpulan patung-patung, ulos dan mesin tenunan atau peralatan ukiran. sebenrnya sih..ini sudah lumrah terjadi karena memang hampir semua daerah di kabupaten tersebut punya adat dan masyrakat yang hampir sama. Hanya saja Pakpak Bharat pun yang menurut saya punya keunikan tersendiri pun tidak juga bisa menampilkan keunikan tersebut dengan lebih maksimal. Satu kejadian lucu ketika salah satu rekan saya yang kebetulan juga berasala dari Dairi sama seperti saya, membuat keributan kecil dengan memainkan alat-alat musik yang dibawa oleh temen-temen dari Dairi. akhirnya keributan kecil itu mampu menarik perhatian orang-orang disekitar dan untuk sesaat perhatian pengunjung pameran tertuju ke Stand Dairi itu. Namun untuk selanjutnya hampir tidak ada pengunjung yang berhenti lebih dari dua detik di depan stand tersebut. Satu cerita lagi dari Kodya Serdang Bedagai yang bawa berbagai macam kerpik-keripik yang juga mereka jual(pinteeeerr….). Kenapa saya bilang begitu karena pada umumnya semua stand pemda yang lainnya tidak menjual apapun di stand mereka masing-masing.
Selain stand pemda tersebut, ada juga beberapa stand lain yang ikut berpartisipasi, seperti stand Telkomsel, Pro-XL, Flexi (provider HP), Fruit Tea, Beer, Bank BRI dan beberapa stand rokok di luar gedung. Yang menurut saya menarik adalah adanya stand kerajinan yang datang dari berbagai kalangan, tetrmasuk kerajinan Batik??? entah apa kaitannya dengan PDT, secara Batik kan bukan hasil kerajinan orang Batak gitu lo….Dan ada stand museum hewan dari kebun binatang Pematang Siantar alias Rahmat Galery…hmmmm interesting. Jarang-jarang ada museum yang bagus seperti itu…selain Museum TBSC tentunya![]()
Nah…..berbicara tentang museum, saya juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan TBSC, boleh dong…!
Jadi TBSC itu adalah sebuah yayasan nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan kebudayaan, khususnya budaya Batak. Jadi di TBSC kita punya sebuah museum Batak indoor yang digunakan untuk menyimpan barang-barang masyarakat Batak yang juga menggambarkan bagaimana dulunya nenek moyang orang Batak hidup. Kita juga punya sebuah Ruma Bolon, rumah khas orang Batak yang dibangun dari nol % menyerupai bentuk bangunan aslinya. Dan juga ada perkampungan Batak yang terdiri dari tiga buah ruma Batak dan juga tiga buah sopo Batak. kalau yang ini kita dapaekan dengan membeli ruma atau sopo masyarakat yang sudah tidak digunakan lagi dan kemudian diperbaiki sehingga layak untuk ditampilkan.
Di satu sisi sebenernya seneng karena bisa memperoleh kesempatan untuk memelihara ruma dan sopo peninggalan masyarakat Batak, tetapi di sisi lain merasa miris juga karena berhadapan dengan realita bahwa masyarakatnya sendiri sudah kurang peduli dengan ruma atau sopo mereka sendiri.
Selain museum dan juga huta Batak dan Ruma Bolon diatas, di TBSC ini kita juga punya sebuah convention hall berkapasitas 500 orang, lengkap denga fasilitas sound system dan juga pencahayaan yang bagus. di area depan kita punya taman terbuka yang bisa digunakan sebagai panggung terbuka. terdapat sebuah tank, sebuah helikopter dan juga patung Bapak TB silalahi sendiri yang juga mendukung pemaparan informasi dari museum pribadi beliau yang juga ada di TBSC ini.
Disini kita juga punya sebuah cafe dengan pemandangan yang bagus banget… pemandangan bukit-bukit dolok tolong dan juga hamparan Danau Toba yang indah.
Jadi sebagai pesan sponsor terakhir, saya ingin mengajak anda sekalian berkunjung ke tempat kami. dengan uang 2000 rupiah anda bisa mengunjungi lokasi sekitar TBSC dan dengan tambahan 3000 rupiah lagi anda bisa mengunjungi semua objek-objek yang saya uraikan sebelumnya.
Mimpi terbesar saya adalah melakukan sesuatu yang berguna untuk memperkenalkan dan juga memanfaatkan Danau Toba yang sangat indah ini kepada dunia, mungkin dengan mengunjungi TBSC ini anda juga akan bisa mengenal lebih dekat Danau Toba…see…I just do a little of my duties.
to be continue…..
continue part III
Setelah masa PDT berakhir apakah dampak yang bisa kita lihat? boleh dikatakan hampir tidak ada. Karena terakhir saya mengunjungi kota Parapat, sebagai basis tempat wisata terbesar di sekitar Danau Toba, tetap sepi dari pengunjung. Hmmm..sayang sekali!!! Inikah dampak yang kita inginkan? Wah “sia-sia dong kedatangan Bapak SBY” ke tanah kita tercinta ini.
Saat ini saja Danau Toba sendiri mengalami kondisi yang boleh dikatakan memprihatinkan. Permukaan air danau yang meninggi entah harus disyukuri atau disesalkan. Kira-kira kenapa ya…permukaan air danau bisa meninggi? Banyak yang berspekulasi kalau hal tersebut disebabkan oleh semakin gundulnya hutan2 di sekitar Danau Toba(entah bagaimana pula kaitannya….^_^). Ada juga yang memperkirakan kenaikan air danau tersebut sebagai salah satu dampak pemanasan global. Dan anehnya lagi ada juga yang percaya bahwa bumi sedang mengalami perubahan kemiringan permukaan bumiĀ yang tidak stabil. Menurut sumber terpercaya tinggi permukaan air danau di sebelah utara danau justru jauh mengalami penurunan tajam sedangkan tinggi permukaan air danau di sebelah selatan danau malah mengalami kenaikan yang drastis. Aneh juga ya… Hingga saat ini tinggi permukaan air danau (khusus i daerah Balige dan sekitarnya) telah mengalami kenaikan 1 hingga 1.5 meter. Wah..wah….banyak dermaga-dermaga yang tenggelam lo…Ini kan bisa membawa dampak yang merugikan masyarakat.
Belum lagi semakin banyaknya tanaman eceng gondok yang merajalela memenuhi permukaan Danau Toba. Pernah di suatu pagi, saya melihat jejeran pulau-pulau eceng gondok merapat ke tepi dibawa oleh hembusan angin. Bagi saya, kumpulan eceng gondok tersebut tampak seperti jejeran kapal musuh yang siap untuk menyerang daratn di sekitar tepian Danau Toba.Bersama rekan-rekan kerja pada suatu saat ketika outbond, kami pernah mencoba membersihkan tepi Danau Toba sepanjang kurang lebih 20 meter dalam waktu + 1 jam, dan setelah beberapa jam kemudian eceng gondok tersebut kembali memenuhi tepian Danau Toba seperti kondisi semula sebelum kami bersihkan. Dapat dibayangkan separah apakah kondisi Danau Toba saat ini.
Yah…sepertinya PDT hanya sebuah sebuah agenda rutin yang dapat menyibukkan pemerintah daerah (yang seolah-olah kekurangan ide untuk mengelola dana). Andai saja PDT ini dapat dikonversi sebagai ajang pelestarian Danau Toba yang sebenar-benarnya…walhasil tidak mustahil impian untuk menjadikan Danau Toba sebagai objek wisata dengan potensi terbesar dapat terwujud. Tentunya hal ini bukanlah tanggugjawab pemerintah daerah sepeuhnya. Seperti simbol “martabe” berjabat tangan, upaya melestarikan Danau Toba juga adalah tanggung jawab kita bersama. Baik pihak pemerintah maupun masyarakat serta pihak swasta terkait(dalam hal ini terutama Indorayon dan Inalum sebagai industri pengguna terbanyak kekayaan Danau Toba). Sehingga dengan optimis saya berharap bahwa pelaksanaan PDT pada tahun-tahun berikutnya dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
Apakah kebanggaan yang dapat kita ceritakan kepada anak-anak kita kelak ketika kita diberikan kesempatan untuk melakukan bagian kita, namun kita tidak dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya??? Think ahead!!
The End