Do a little help today….

Two mothers are passengers of a public transportation. They get in before me. I stop the car and want to go home. Hope there’s still another chair for me inside. Silently everybody look each other, no one move and i’m confused. It seems that there is no chance for me, but the driver shout to the mothers to share me space. Finally I’m in.

Just another simple city story. But it gives me time to re-think what have I done these time. Do I still have sensitivity for others? Do I still care for everyone, even I just know nothing ’bout them? It’ll cost us zero to spend a smile or nice simple chat with other. Eventhough we think it is easy, thats the most hardest part to do.

So I say to my self… never feel bad for a long time…because there so much more affictions beside you, maybe now ‘they’ are sitting next to you. So what will be better? Make amend and spray a lilttle love everywhere..Let’s make earth be better place (after Jacko) 🙂

Advertisements

Senyum Ayah sedang Sakit

” ..akhir-akhir ini sering kepikiran kepada Ayah, jauh sudah jarak memisahkan, tak mungkin sekejap bisa bertemu…” (terinspirasi oleh rindu kepada Ayah…sedang mencari sesuatu untuk dihadiahkan di masa pensiun Ayah)


Cerpen Yusrizal KW Dimuat di Media Indonesia 09/21/2003

SEJAK pensiun jadi guru, ayah banyak berdiam diri. Ia tak pernah lagi tersenyum. Kadang aku berpikir nakal, jangan-jangan senyum ayah waktu masa pensiunnya tiba, tertinggal di dalam kelas. Kemudian murid-murid ayah menendang-nendangnya, atau piket pagi menyapunya dan membakar bersama sampah-sampah.

“Apakah ayah sakit, atau ada yang tidak enak di rumah ini,” kudengar suatu hari ibu bertanya karena merasa tak enak melihat sikap ayah akhir-akhir ini tidak tersenyum. Ayah cuma menggeleng, lalu berkata, “Ada saatnya untuk tidak tersenyum….” Mungkin, sebagaimana kata ayah kepada ibu, inilah saatnya untuk tidak tersenyum. Padahal, oleh murid-muridnya, teman sesama guru, ayah dikenal guru paling murah senyum. Tapi, sekarang, begitu mahalnya senyum ayah. Saking mahalnya, sulit didapat.

Mula-mula kami maklum melihat ayah mahal senyum. Tapi lama-kelamaan, kami menjadi gelisah. Bukannya menjadi terbiasa. Seakan-akan, dengan tidak pernah tersenyum, ayah menyiratkan kepada kami bahwa kehidupan sedang pahit. Atau, kami sedang membuat hatinya sedih dan kecewa. Karena itulah, kadang aku ingin bicara dari hati ke hati dengan ayah, mengatakan bahwa aku, juga adikku Elina dan ibu, butuh senyum ayah.

Ternyata niatku itu, suatu hari kudengar disampaikan oleh Elina adik bungsuku. Diam-diam kulihat Elina menemui ayah di kamar, aku menguping di balik pintu.

“Yah, Elina butuh senyum ayah. Elina mau ujian skripsi,” begitu antara lain ucapan adikku yang mahasiswa itu. Kami empat bersaudara, dua kakakku sudah berkeluarga dan mereka menetap di kota lain bersama suami dan anak mereka. Hanya aku satu-satunya anak laki-laki ayah, yang mestinya usia tiga puluhan ini sudah memiliki pekerjaan tetap.

“Kau tak usah risau. Pakai saja senyum ibumu,” demikian jawab ayah. Oh. Begitu gamblangnyakah ayah memahami hati Elina, hati kami semua. Di manakah sifat arif bijaksana ayah kami yang guru selama ini terpapar indah.

Dengan derai air mata, Elina keluar. Sebelum tangannya meraih gagang pintu, ayah memanggil, “Elin, tunggu. Senyum itu kehidupan, Nak. Ada kalanya ia sedang sehat. Dan pada saat ini, senyum ayah sedang sakit. Ayah gagal merawatnya dengan baik!” Aku tercenung memahami makna kata ayah di balik pintu. Sebelum Elina membuka pintu kamar ayah yang sengaja ditutupnya dari dalam, aku cepat beranjak. Kurekam baik-baik kata ayah soal senyum. Mungkinkah senyum ayah sedang sakit?

***

“Senyum ayah sedang sakit, Bu. Bagaimana caranya kita menyembuhkan senyum ayah!” kataku kepada ibu yang sedang merajut sulaman benang wolnya. Ibu menghentikan sejenak kegiatan menyulamnya. Ia menatapku dengan sedikit mengernyitkan kening.

“Maksudmu?”

Aku menarik napas. Kurasakan kegelisahan yang asing dan misteri. “Ayah mengatakan begitu!” tegasku.

Ibu hanya diam, kemudian melanjutkan menyulam. Kubaca raut ibu, menyimpan gelisah. Sejak saat itu, aku merasakan senyum ayah sakit menular ke ibu. Ibu pun sejak kukatakan senyum ayah sedang sakit, ia terlihat menua. Sebagaimana ayah, ibu pun tidak terlihat lagi tersenyum. Akibatnya, aku dan adikku tidak bisa tersenyum.

“Kenapa ibu tidak pernah tersenyum lagi? Ibu segan pada ayah?” suara berat Elina menggemuruh di hatiku. Kurasakan suara Elina kepada ibu sedang menyembelih senyumnya sendiri yang tersimpan di lubuk hatinya. Kurasakan senyum Elina bagai sedang merintih untuk kemudian sakit sebagaimana senyum ayah yang sakit.

“Bagaimana bisa tersenyum, kalau senyum ayahmu belum pulih,” begitu kata ibu. Ah, ibu. Apakah ini bentuk lain kesetiaan seorang istri pada suaminya. Apakah ini dikatakan sakit sama dirasa. Apakah hal ini termasuk realistis. Semak akalku dibuatnya.

***

Hari-hari menjadi tidak menarik untuk dilalui. Kurasakan, ayah mungkin tidak siap menghadapi masa pensiunnya. Mungkin, sebagai guru, ia merasa masih perlu untuk ke sekolah, mendidik, mengajar, melihat tingkah polah yang beragam sembari setiap hari mendengar dentangan lonceng.

Setiap berhadapan dengan ayah, hanya raut wajahnya yang menua, rahangnya yang terlihat menegang, mungkin karena jarang tersenyum. Tapi, entahlah. Yang pasti, wajah ayah menmbuatku gelisah, meresahkan adik perempuanku.

“Ayah, apa yang harus kulakukan agar ayah bisa tersenyum,” kataku di meja makan. Ayah menarik napas, kemudian menyalakan rokoknya. Setelah batuk kecil, ia mengangguk-angguk. Dari sorot matanya kutangkap bahwa ayah sedang berpikir keras. “Aku ingin ayah tersenyum. Katakanlah, apa yang mesti aku lakukan bersama Elina,” ulangku lagi.

“Pada saatnya nanti, aku bisa melakukannya sendiri!”

“Sampai kapan, Ayah?”

“Sampai ayah mampu!”

“Tidakkah ayah tahu, ibu tertular penyakit yang sama dari Ayah!”

“Itu karena ibumu lemah!”

Jawaban ayah membuatku ingin meninggalkannya dengan kasar. Tak kutemukakan lagi jawaban-jawaban ayah yang menyejukkan, dengan garis bibir melengkung ke atas, serta berakhir dengan tatapan hangat.

***

“Besok ayah ulang tahun,” kata adikku.

“Mudah-mudahan senyumnya sembuh. Usianya berarti 61 tahun besok!”

“Bagaimana kalau kita buat perayaan khusus, atau kita membelikan kado untuk ayah.”

“Ide yang bagus. Selama ini kita tak pernah merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah. Inilah saatnya yang tepat untuk mengucapkannya, semoga tersenyum.”

Akhirnya kuputuskan hanya membelikan kado untuk ayah berupa sarung, baju koko, dan peci untuk ayah salat Jumat.

Pagi-pagi sekali, kami berdua mengetuk pintu kamar ayah dan ibu. Tapi, tak ada jawaban. Ketika kudorong, pintu ternganga, kamar kosong. Ke mana ayah.

Ke mana ibu?

Kami saling pandang.

Kulihat mata Elina yang penuh harap, berkabut. Hatinya dan hatiku sama-sama gelisah. Padahal, sebelumnya, bahkan sampai terbawa mimpi, pagi ini mestinya awal pagi yang indah karena kami mampu menyembuhkan senyum ayah yang katanya sedang sakit.

“Mungkin ayah membawa ibu jalan pagi. Selepas salat subuh, barangkali mereka jalan berdua. Siapa tahu, udara pagi bisa memulihkan senyum mereka,” kataku pada Elina. Adikku mengangguk. Isyarat mata Elina mengajakku melihat keluar.

Ketika aku hendak membuka pintu depan yang merupakan ambang ke teras, samar-samar dari balik kaca kulihat ayah sedang duduk di bangku-bangku pekarangan yang pernah dibuat ayah di bawah pohon jambu. Kulihat ayah membiarkan ibu merebahkan kepalanya di dadanya. Gerakan tangan ayah dari belakang seperti sedang membelai-belai kepala ibu yang telah beruban.

Aku dan Elina terpelongo sesaat. Kemudian kami urungkan menguakkan pintu. Diam-diam kami intip dari balik kaca nako yang sebagian gordennya telah disibakkan. Apa yang tengah terjadi. Menjeput masa lalukah. Atau, mereka berdua sedang saling mengobati senyum yang hilang. Dalam hati aku berdoa, semoga di usia ke-61 ini ayah merasa hidup kembali dengan senyum usia barunya.

Sesaat kemudian, ayah berdiri, diikuti ibu. Kini, pasangan tua itu berdiri berhadap-hadapan. Tak lama, kulihat ibu dipeluk ayah. Setelah merenggang, ayah mengangkat tangannya ke wajah ibu, telunjuknya menghapus air mata di puncak hidung ibu. Elina memegang tanganku, terasa dingin. Kutahan napas, menunggu kejadian berikutnya. Tak tahu apa yang dikatakan ayah, yang tampak, ibu setelah itu menunduk.

***

Kado yang telah kami bungkus berdua, akhirnya disimpan dulu. Tak ingin mengganggu keberduaan mereka yang tengah kehilangan senyum. Setelah hari agak terang, matahari segera kan terbit, ayah duduk di kursi beranda. Ibu masuk ke dalam, membuatkan teh.

Yang jadi pertanyaan, kenapa belum juga tampak ada senyum. Atau, keberduaan mereka tadi memperteguh senyum menjadi tak penting asal cinta tetap utuh.

Ah.

Diam-diam, saat ibu membawakan teh dari dapur ke teras rumah, aku dan Elina membuntuti sambil membawa kado. Setelah teh diletakkan di atas meja kecil, aku pun serta merta mencium ayah.

“Selamat ulang tahun, Ayah!”

Lalu Elina mengikuti sembari memberikan kado dari kami. Kulihat mata ayah berkaca-kaca. Elina terisak. Aku merakasan hal sama.

Tetapi, apa yang kuharapkan, tak terjadi. Ayah cuma berkata, “Terima kasih anak-anakku tercinta. Kalian penuh perhatian dan rasa sayang yang dalam….

” Oh, hanya itukah, Tuhan. Mana senyumnya. Kuharap, ucapan selamat ulang tahun ini berbalas senyum kebahagiaan.

Ingin kuminta senyum untuk pagi ini saja kepada ayah, juga ibu, tapi bibirku terlanjur kelu dengan sambutan ayah barusan. Elina pelan-pelan masuk, aku membuntuti. Kulihat Elina ke kamarnya, kuturuti ia. Tapi, Elina telah lebih dulu membenamkan wajahnya. Ia sesungukkan.

Dadaku tiba-tiba terasa berat. Ingin rasanya aku marah kepada ayah, juga ibu. Ingin rasanya kumaki ayah, kubentak-bentak, tapi semua itu justru harapan yang menunjukkan ketakberdayaan. Inilah buah rasa cinta dan sayang pada ayah dan ibu, sehingga untuk mengungkapkan kepedihan hati pun jadi tak mampu kepadanya.

***

“Ayahmu pensiun dengan kekecewaan,” kata Pak Jupri, kepala sekolah di tempat ayah pernah menjadi guru. Setelah kejadian pagi itu, aku pergi menemui kepala sekolah ayah semasa beliau belum pensiun. Maksudku aku ingin tahu hal terakhir yang menimpa ayah menjelang pensiunnya tiba dari pihak sekolah. Akhirnya dari Pak Jupri kuketahui pangkal senyum ayah menderita sakit. Semua di luar dugaanku, sulit kupahami kenapa begitu dahsyat pengaruhnya pada ayah, pada kehidupan kami semua di rumah.

“Ayahmu terlalu memikirkan tugas yang terakhir kali diberikannya kepada anak-anak,” ungkap Pak Jupri. Setelah diceritakan panjang lebar, Pak Jupri memberikan lembaran tugas terakhir ayah kepada murid-muridnya. Soal dari tugas anak-anak itu, “Tuliskanlah cita-citamu berikut alasannya.

” Sebagaimana keterangan Pak Jupri, aku merasa miris juga membaca jawaban murid-muridnya. Dengan membayangkan mengelamnya wajah ayah, kubaca satu per satu jawaban dari perintah menuliskan cita-cita berikut alasannya itu.

“Patut ayah bersedih. Wajar kiranya ia kehilangan senyum,” kataku lirih menatap Pak Jupri. “Itulah yang memprihatinkan ayahmu, juga kami para guru di sini,” tanggap Pak Jupri. Sepulang dari menemui Pak Jupri, aku menemui adikku Elina.

“Jadi ayah bersedih karena dari perintah soal yang diberikannya itu tak seorang pun anak-anak yang bercita-cita jadi guru,” Elina bertanya nyaris tak percaya.

“Ya. Bahkan, alasannya mereka, jadi guru itu susah. Gajinya juga kecil. Kalau tak ada pilihan lain, baru jadi guru. Umumnya, anak-anak bercita-cita jadi dokter,” terangku.

“Lalu apa tanggapan Pak Jupri?”

“Ia teramat sedih ketika menyadari anak-anaknya pun di rumah tak ada yang bercita-cita jadi guru, persis dengan kita anak ayah ini!”

Elina terpaku, entah apa yang tertangkap oleh perasaannya. Dan, malamnya aku membawa kegelisahan ayah ke tempat tidur. Dalam tidur aku bermimpi, ayah tersenyum memandangku yang tengah bersiap-siap berangkat ke sekolah sebagai seorang guru sembari berkata, “Ayah bangga kau jadi guru, Nak!”

***

Kado untuk para guru yang mulia

Merih??

Hari ini salah seorang teman baru saja mengupload photo-photo terbaru-nya dari negeri tetangga.Teman lainnya baru saja hari ini menyapaku dari negeri tetangga. Teman yang satu lagi baru hari ini mulai ramai meng-update status terbarunya dengan tempat tinggal nya yang baru dan aktifitas yang lumayan membuatnya gerah.

Baru seminggu yang lalu, saya menghantarkan teman berangkat ke negara tetangga. Dan dalam satu minggu ini ramai dibicarakan di mailing list tentang pro dan kontra melanjutkan kuliah ke negara tetangga. Dalam beberapa hari terakhir seseorang mendiskusikan keinginannya untuk bekerja di negera tetangga. Masih belum satu bulan seorang kaka menceritakan pengalamannya mengunjungi negara tetangga. Dan baru saja nih… saat saya menuliskan ini semua, seorang teman bercerita bahwa ada panggilan interview untuknya dari negara tetangga.

Hmmm…entah bagaimana harus kukatakan lagi, seketika sepertinya semuanya bikin aku merih. Awal tahun ini ramalan zodiakku berkata kalau akhir tahun ini saya akan berkunjung ke negara tetangga. Sepertinya semuanya membuatku bingung. Merih…kata orang sini..

memilih memelihara satu merpati

Sudah berulangkali saya coba log-in ke akun di salah satu penyedia blog gratis di Net, namun lagi-lagi saya kesal mengapa tidak bisa masuk. Ada pilihan bantuan me-refresh password yang telah ada sebelumnya. Namun sialnya lagi username yang saya gunakan adalah alamat e-mail yang justru saya lupa apa passwordnya hmmmm… sangat tidak masuk akal jika kemudian ‘sang host’ blogger meminta kembali mengisikan alamt e-mail tersebut, dan saya dapat me-reset password saya dari e-mail tersebut, heh…? (kalau saya bisa log-in dari tadi, saya juga tidak akan minta pilihan bantuan om!)

Akhirnya saya memutuskan merelakan saja blog saya tersebut dengan niat aka membuat blog baru yang lebih kreatif. Saya terpikir juga kalau nanti saya buat blog baru lagi akan bisa tetap diupdate ga yah?? Saya ragu.. Jadi saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk membuat sebuah blog baru lagi…atau fokus dengan satu blog yang akan saya pelihara terus.

Ternyata menulis itu tak semudah keinginanku

Belajar menuliskan apa yang ada di dalam otak menjadi sebuah tulisan ternyata sangat sulit. Lama sudah berhenti untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati namun selalu terusik untuk menyentuh keyboard yang terlentang di atas meja. Satu yang tak kupunya adalah kesabaran dan ketekunan. Thanks to everyone who wrote on the media. Thanks to every editor who keep the reading still interest. Bagaimana aku akan menulis lagi..ingin mengubah waktu menjadi berguna..tunggu waktuku.

Never Abandon Us

Bukan hanya sekali, atau dua kali atau bahkan telah berkali-kali engkau meninggalkan kami. Kami hanyalah sekelompok orang di bawah garis komando yang harusnya berada tepat di belakangmu. Kami selalu berusaha mencoba agar tetap berada di belakangmu. Namun kami selalu berada diluar jalur yang engkau gariskan.

Sekali bertahan dengan seuntai senyum dibibir, memang inilah pengabdian kami. Keduakali bertahan, ada pertanyaan dalam hati, apakah memang ini pengabdian kami? Ketigakali bertahan timbul keraguan dalam hati, masihkah kami dalam pengabdian kami? Dan hingga semakin sering bertahan muncul kegamangan dalam hati masihkah kami harus mengabdi?

Kita memulai dari awal yang sama dan mengapa kita tidak bisa berakhir pada akhir yang sama? Mengapa engkau harus mencari jalanmu sendiri, tolong jangan tinggalkan kami. Kita mengalami sakit perih yang sama, mengapa kita tidak merasakan dengan sama? Never Abandon Us.

Kami hanya sekelompok orang yang dalam keterpurukan kami terjebak untuk menanti waktu berlalu dalam ketidakpastian dan perlakuan yang tidak adil.

Jika waktu masih dapat terulang lagi, mungkin kami juga akan meninggalkan engkau sebelum engkau meninggalkan kami.

Selamat Hari Guru…Guruku Sayang Guruku Malang

Terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti trimakasihku

‘tuk pengabdianmu


Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

tanpa tanda jasa

Pagi-pagi, bangun, tidak terpikir hari ini adalah hari guru. Tidak seperti lima-enam tahun sebelumnya, saat peringatan hari guru masih sangat dinanti-nantikan. Saya masih ingat kenangan saya di waktu hari guru, menyematkan karangan bunga kepada Bapak/Ibu Guru, kemudian menyalami semua Bapak dan Ibu Guru dan secara khusus di kelas mengadakan perayaan kecil-kecilan. Sekarang?? saya tidak tahu apakah penghayatannya masih sama atau sudah jauh berubah. Mungkin ritualnya masih sama. Upacaranya masih sama, perayaannya masih sama juga. Tetapi saya khawatir nilai-nilai yang ada pada anak didik saat ini sudah jauh berbeda.

Dua hari yang lalu saya membaca berita di koran lokal, kelakuan seorang guru yang tega mencabuli anak didiknya sendiri, di ruangan kelas dihadapan siswa-siswinya sendiri. Saya juga membaca cerita tentang rencana peningkatan gaji guru dan juga peningkatan kesejahteraan para guru. Wah…. di satu sisi para guru pasti bersyukur, apalagi pada saat ini sepertinya gaji para guru sebagian besar sudah lumayan. Di sisi lain apakah hati tidak miris mendengar bahwa ada guru yang tega menghancurkan masa depan muridnya? Jangankan memperbaiki masa depan anak didik melalui pembelajaran yang lebih bermutu, setidaknya janganlah sampai merusak…aduh Bapak Ibu Guru…

Saat ini profesi guru sepertinya mulai kembali memiliki pamor yang hmmm….menarik… Karena sejauh pengamatan saya hampir 50% quota untuk CPNS di daerah membutuhkan guru. Tetapi masihkah ada “Amang Guru” dan “Inang Guru” di luar sana, jiwa-jiwa muda yang berdedikasi tinggi untuk pengajaran dan pendidikan? Saya yakin masih banyak…

Seorang teman saya berbicara skeptik…bagaimana tidak kualitas guru saat ini dapat diharapkan, lha wong yang masuk Universitas Pendidikan pun tinggal orang-orang dengan kemampuan terbatas. Coba saja seandainya ada kebijakan dari Universitas Terkait untuk hanya menerima calon guru yang sama hebatnya dengan kandidat para Sarjana Ekonomi dan Sarjana teknik lainnya, bukan hanya menampung “lapung-lapung” saja…..(buat rekan-rekan di jurusan terkait..peace….no heart offense)

Saya memiliki orangtua yang berprofesi sebagai guru dan saya bangga menjadi anak seorang guru.